Calon Jurnalis Muslimah

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Sahabat Awan. Apa kabar Iman? Bagaimana keadaan langit di hatimu? Apakah langit berawan hitam atau putih? Jangan takut pada awan hitam, karena ia tidak jahat, ia baik. Ia akan membawa kebahagiaan dan keberkahan, yakni hujan. Hujan adalah rahmat Allah.

Pada kesempatan kali ini, saya Awan, akan berbagi kisah. Awalnya Awan ingin sekali menulis kisah lain. Yang berjudul "Mudah mengucapkan, mudah pula mengingkari," tapi Awan membuat blog ini karena ingin berbagi kebahagiaan, agar tulisan-tulisan Awan, dapat mencerahkan hati sahabat. Jadi cukuplah Allah sajalah yang tahu penderitaan Awan.

Sahabat Awan yang subhanallah luar biasa hebat. Hari ini, hari pertama Awan bekerja di media surat kabar, sebagai Jurnalis.

Menjadi jurnalis itu katanya harus siap bekerja 24 jam.
Harus memiliki mental baja.
Wawasannya juga harus luas..
Yang paling penting pandai menulis berita
dan jadilah wartawan yang amanah.

Karena apa yang kita tulis kelak akan diminta pertanggung-jawaban.

Langkah ini bukanlah tanpa hambatan. Awalnya Awan melamar pekerjaan di media online, setelah terima, dan di nobatkan menjadi wartawan magang, Awan di eliminasi.

Kegalauan itupun hadir di ruang jiwa, ketika diri ini mengalami kegagalan, beruntungnya, aku mendapat info dari seorang pengusaha yang sholeh, ayah, dan suami yang sholeh. Dosen yang sholeh. Kalau media surat kabar X sedang mencari jurnalis.

Akupun pergi ke sana membawa surat lamaran. Tepatnya pukul 5 sore. Satpam itu mengatakan sudah pulang. Jadi aku menitipkan ke dia.

Hati gelisah menanti jawaban, akhirnya di hari jumat awan mendapat telpon, karena nomornya tidak dikenal, awan tidak mengangkatnya. Ternyata itu dari media untuk melakukan panggilan wawancara keesokan harinya. Pukul empat sore sesuai pesan yang masuk di ponselku, aku tiba di sana. 

Ruangan yang menurutku seperti ruangan di televisi ataupun yang kulihat di blog temanku. Seperti di perusahaan-perusahaan besar. Dari tata letaknya. Itulah kesan pertamaku ketika naik ke lantai atas di antarkan cleaning services perusahaan media yang namanya sempat berkibar di Kalbar, hingga saat inipun namanya masih dikenal, dan sekarang berganti nama. 

Aku dipersilahkan menunggu sampai yang meng-interview tiba, karena dia masih di jalan. 

Sambil menunggu, aku membaca surat kabar X. Akhirnya datang juga. Wawancara berjalan lancar. Hari ini aku mulai mengikuti aktivitas media X, rapat redaksi.

Ada kesan indah saat aku berusaha untuk mengenal mereka satu persatu, ada seorang yang dengan sopan dan santun tangannya salaman ala sunda alias tidak bersentuhan. Ketika kutanya kenapa? Dia menjawab, karena melihat pakaianku yang syari.
 
Masya Allah aku bangga menjadi seorang muslim. Bahagialah muslimah, karena engkau dihargai. Semoga aku tetaplah aku ketika menerjunkan diri menjadi seorang jurnalis. Aku yang ideal. Namun, aku bukanlah manusia sempurna. Untuk itu kalau ada salah, aku hanya bisa mengatakan. "Maaf bilaku tak sempurna," jangan hakimi aku. Semangat berjuang! Media punya kekuatan dengan tintanya mampu mengubah dunia, menginspirasi banyak orang. In Shaa Allah.

Unknown

No comments:

Instagram