SALAM



Siang itu angin bertiup dengan lembut di kampus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjung Pura (FKIP UNTAN) di Pontianak. Matahari pun bersinar cerah. Pohon-pohon melambai-lambai ikut memberikan sumbangsih siang hari itu... Yakni menghadirkan Air Conditioner alami … Tampak seorang gadis remaja usia 19 tahun sedang mengantri di kantin untuk membeli makanan ringan, dengan tas ransel berwarna hitam di pundak dan sepatu kets nya yang terbuat dari kulit berwarna biru. Jilbab biru muda polos panjangnya sedada yang senada dengan motif dibaju putihnya yang bermotifkan bunga, Ya itulah saya yang pada saat itu akan mengikuti salah satu agenda Lembaga Dakwah Kampus Tarbiyah (LDK), Ya nama LDK nya Tarbiyah yang di artikan ke dalam bahasa Indonesia yaitu Pendidikan. Setiap fakultas diberi nama berbeda. Seperti Fakultas Kedokteran, nama LDK nya adalah Ibnu Sina, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam namanya LDK Fikri, dan lain-lain. Madrasah alam nama agendanya, yang disingkat menjadi SALAM oleh aktivis-aktivis LDK Tarbiyah. Para mahasiswa yang aktif dan menginginkan suatu perubahan ke arah yang positif. Para perantau yang mencoba untuk mengisi waktu luangnya dengan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Bagaimana tidak? Apabila mahasiswa-mahasiswa yang sebagian besarnya adalah anak perantau, mengisi waktu senggangnya dengan menggali potensi diri di sebuah lembaga yang berbasiskan cinta Alqur’an…manis bukan? Pa bila waktu kosong diisi dengan kebaikan insya Allah kejahatan pun menyisih.Saya Nurhijria azka maharani, yang kini telah mendapatkan amanah di salah satu instansi pemerintahan. Saya ingin membagikan cerita saya di masa silam. Yups! Anda boleh mengatakan ini edisi nostalgia. Saya mahasiswa lintas kampus yang beruntung karena dapat mengikuti kegiatan SALAM. Ya, saya mengikuti kegiatan SALAM karena ajakan teman satu kostan. Namanya Hamidiah, pada saat itu dia adalah panitia kegiatan SALAM. Saya tidak bersama Hamidiah di siang hari itu, namun saya berusaha berbaur dengan peserta-peserta SALAM yang saya ketahui adalah mahasiswa-mahasiswi baru FKIP UNTAN. Setelah mendapatkan makanan ringan saya dan teman-teman baru saya yang bernama Hana dan Nida pun berjalan-berjalan sekitar kampus sambil menikmati tiupan angin yang lembut. Oh iya, selain saya ada juga beberapa mahasiswa dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), yang beberapa dari mereka akan menjadi teman satu tim saya. Kita bercakap-cakap ringan, mulai dari perkenalan. Ke duanya agak-agak tertutup menurut saya, namun tetap ramah. Sebagai satu-satunya mahasiswa dari kampus DATACOM saya diterima dengan baik akhwat-muslimaholeh mahasiswa FKIP UNTAN dan juga PGSD. Saya merasa senang… Hingga ba’da Ashar kita dikumpulkan di DPR. Kalian tahu apa itu DPR?, singkatan dari Di bawah Pohon Rindang. Asyik bukan?. Saya sedikit membantu Hamidiah dan teman-temannya menggelar alas duduk kami di atas rerumputan hijau. Kita duduk dengan formasi melingkar, namun tetap terpisah yang laki-laki dan perempuannya. Belakangan saya tahu kalau perempuan dipanggil akhwat, dan laki-laki dipanggil ikhwan. Kalau kita ingin menyapa satu orang ikhwan, maka kita menambahkan akhi di depan namanya, dan ukhti untuk seorang akhwat. Akhi artinya saudara laki-laki, dan ukhti artinya saudara perempuan. Dan akhwat-akhwat serta ikhwan-ikhwan pun mulai memberikan kami semacam pembekalan. Setelah itu bis pun datang, berjumlah dua buah. Satu bis diisi akhwat, dan satunya lagi ikhwan. Setelah berbaris, kita pun masuk ke dalam bis dan berangkat. Sebagian menggunakan kendaraan bermotor, mereka adalah panitia laki-laki. Tujuan kami adalah Pantai Kura-Kura dan pada hari terakhir akan Hiking ke Bukit Tanjung Gundul di Singkawang. Owh menyenangkan sekali!!. Dalam perjalanan aku tidak banyak bicara. Hanya diam dan mengamati sekelilingku. Sepertinya semuanya lagi ingin diam. Karena mungkin kelelahan setelah aktivitas seharian, pun menjelang waktu Maghrib dan hari mulai gelap. Satu orang pantia akhwat mulai mencoba menghubungi rekannya yang bermotor, karena menurut perkiraan mereka sudah lebih dulu sampai. Namun ternyata tidak dapat dihubungi, karena di luar jangkauan. Ups!!. Ternyata kami tersasar. Suasanya saat itu sedikit menegangkan, karena hari mulai gelap dan jalan masih dalam bentuk tanah diiringi rinai hujan. Sopir bis pun menyuruh kami turun, karena dia akan memutar arah bis. Karena ada beberapa ikhwan yang mengikuti kami mengatakan arahnya salah. Karena hujan beberapa ikhwan yang tadinya berdiri di luar masuk ke dalam bis dan pintunya tertutup. Akhirnya waktu Isya, kami sampai. Ini bukan kali pertama saya menginjakkan kaki ke pantai, namun kali ini saya dapat mendengarkan dengan jelas keindahan suara ombak di malam hari. Pertama kali saya menginjakkan kaki ke pantai ketika kelas dua Madrasah Aliyah, pada saat kegiatan Remaja Masjid se- Indonesia. Waktu itu saya bersama teman saya Sasbi yang berkesempatan menjadi ketua BKMI UNTAN setelah beliau kuliah. Waktu itu jua saya bisa menyaksikan secara live Sulis dan Haddad Alwi. Malahan sholat berjama’ah pula. Ketika pertama datang di Pantai Kura-Kura Saya sempat terpisah dengan peserta lainnya yang ternyata sudah membentuk barisan karena aba-aba dari panitia. Jujur, ini  kali pertama saya mengikuti kegiatan seperti ini, saya belum begitu respon ketika ada aba-aba untuk kumpul. Saya tetap di tempat saya dengan beberapa peserta akhwat lainnya di pinggiran pantai. Menikmati indahnya pantai Kura-Kura di malam yang hitam pekat itu, sejuk terasa di badan. Beberapa saat saya mendengar suara sirine dari toa… Seorang komandan mungkin pada kegiatan SALAM menegur keteledoran kami. Terlihat galak dan menakutkan. Saya harap maklum, karena kami semua adalah tanggung jawab mereka.

Setelah sholat isya kami beristirahat, owh bukan istirahat. Tapi perkenalan yaa sambil istirahat juga. Hujan lebat dan para akhwat, baik itu panitia maupun peserta tidur dalam satu tenda yang lumayan besar. Namun sebelum masuk tenda, aku berkenalan dengan satu orang akhwat yang cantik dari FKIP UNTAN, namanya Istiqomah. Sesuai dengan namanya… Anaknya juga baik. Seorang akhwat yang belum aku kenal membuka perkenalan dengan tausiyah. Rupanya ia bersama suaminya naik motor dari Pontianak. Subhanallah, betapa tangguhnya. Dengan menitipkan anak mereka tempat neneknya, di jalan dihadang hujan deras pula. Namun derasnya hujan tak menghalangi niat mereka untuk datang ke SALAM sebagai pemateri, lebih tepatnya dai’ dan da’iyah yang bersedia mengorbankan jiwa dan raganya untuk dakwah. Bagaimana tidak? Hujan deras… Dengan sedikit menggigil namun tetap bersemangat ukhti Lia memberikan tausiyah dan perkenalan. Ternyata dia adalah seorang keturunan Tionghoa. Namun orang tuanya tidak menghalanginya untuk berjilbab. Karena pendekatan teman-temannya juga. Seringnya teman-temannya bersilaturrahim ke rumah membuka pintu hati ke dua orang tuanya. Ia pun dimudahkan dalam dakwahnya, hingga bertemu jodohnya akhi Syabarrudin. Lain waktu kami bertemu di walimahannya ka Endri, yakni murabbi saya.. dan ukhti Lia menceritakan kepada saya, dulu walimahannya di gedung Mujahidin. Usai memperkenalkan dirinya kami pun mulai games perkenalan. Di mulai dari beliau, dengan sebuah pulpen beliau menyampaikan kepada teman searah putaran jarum jam, langsung diteruskan dengan temannya sambil menerima pulpen dan mengikuti aturan main. Yakni sambil memegang pulpen dan mengucapkan “saya terima pulpen ukhuwah ini dari ukhti Lia (sebelum kita, jadi misalnya sepuluh orang sebelum kita ya sebelum orang juga kita sebut namanya), nama lengkapnya, berikut hobinya. Pada giliran saya, sebenarnya deg-degan juga.. namun Alhamdulillah dapat teratasi. Berikut perkenalan diri saya, “nama Nurhijria maharani, biasa dipanggil ria, namun teman-teman di kampus lebih suka memanggil saya mak cik, hobi petualangan.” Alhamdulillah saya dapat menyebutkan nama-nama teman saya sebelum saya yang sudah belasan orang memperkenalkan diri, yakni dengan mencatatkan nama-nama mereka saat mereka memperkenalkan diri. Mencatatnya di telepon seluler. Hehehe… Ma’af bukannya curang, namun kan pada saat aturan mainnya disebutkan.. tidak ada larangan seperti yang saya lakukan di atas. He.. he.. he… Perkenalan selesai kita pun beristirahat. Ditemani musik yang bernama ombak. Musik alam yang ALLAH ciptakan gratis untuk umatNya. Suaranya terdengar karena tenda kami berada di tepi pantai. Dingin, dan aku dapat tempat tidur bagian tepi tenda. Karena gak cepat kali ya? Namun karena sapuan lembut angin pantai di malam hari dan juga musik alam akhirnya aku terlelap juga. Tidak lupa sebelum tidur, panitia akhwat menaburkan garam untuk menghidari kalau-kalau ada ular dan kawan-kawannya yang hendak mengganggu kami. Jam dua pagi kita dibangunkan untuk melakukan sholat tahajud. Sesuatu yang istimewa buat saya. Karena seumur hidup belum pernah ada yang membangunkan untuk sholat tahajud, belakangan aku tahu para aktifis dakwah menyebutnya dengan sebutan Qiyamul Lail, atau bahasa Indonesianya sholat malam. Lebih istimewa lagi ketika sahabat saya Hamidiah yang selaku panitia membuat hati saya sedikit deg-degan, mungkin bukan hanya saya, namun juga peserta lainnya. Bahkan ada beberapa peserta lainnya yang tidak mengikuti perintah ukhti Hamidiah. Entah karena takut terbawa ombak, entah karena takut terlihat auratnya. Meskipun tidak mungkin terlihat. Ya pada saat itu ukhti Hamidiah memerintahkan kami untuk berwudhu di tepi pantai. Jreng….!!! Bayangkan situasi pada saat itu, baru bangun tidur disuruh berwudhu di tepi pantai, di mana debur ombak sedang pecah berderai, mengulang pantai datang dan pergi… namun saya melihat ada beberapa teman yang sudah mulai mengambil air wudhu, akhirnya Bismillah… Brrrr!!! Sejuk sekali… tubuhku bergetar saat mengambil air wudhu, dan juga jiwa ini… Jiwa ini bergetar merasakan kebesaran Allah. Allahuakbar … Kecilnya aku di sisiMU… Ampuni daku ALLAH. Yaa Allah betapa indahnya ciptaanMU… betapa kecilnya hamba… Sujud syukur saya lakukan atas rasa yang berbeda ketika berwudhu di tepi pantai, merasakan kesejukan air laut, kilauan air laut, dan tentu saja suara ombak.. musik yang indah ciptaan Allah Yang Maha Esa. Dikegelapan malam, rasa kantuk ini tiba-tiba saja hilang sejenak, kelelahan mengerjakan tugas-tugas kuliah, dan beban lainnya bak ombak yang pecah berderai. Tak terasa air mata ini mengalir hangat di kedua pipi saya. Saya pun segera bergabung ke dalam shaf-shaf sholat qiyamul lail. Kami melaksanakan sholat qiyamul lail di tepi pantai. Benar-benar istimewa!. Allaahuakbar!!!. Di sinilah saya dapat melihat keistimewaan sahabat saya Hamidiah. Setiap insan itu istimewa. Lain waktu Hamidiah dan teman-temannya juga mengajak kami bermain games yang intinya kepercayaan kepada saudara seiman kita. Kita disuruh menghadap ke arah membelakang, dan teman-teman kita siap menangkap kita disaat kita menjatuhkan diri. Bayangkan saja, dalam posisi di bawahnya miring seperti jurang. Beranikah saya menjatuhkan diri dan yakin teman-teman bisa menangkap saya dan saya yakin tak ada yang satupun dendam dan menjadikan ini kesempatan buat mereka untuk membalas dendam kepada saya?. Saya saat itu tidak berani, karena saya orang yang takut ketinggian. Lanjut lagi ceritanya, setelah sholat rupanya ada agenda lagi. Yaitu simulasi alam kubur. Dalam malam yang gelap, kami disuruh jalan berdua-duaan. Saya dan Istiqomah. Akhwat yang pertama kali menyapa saya, dan berteman sama saya. Kita berjalan, saya lupa pada waktu itu apakah kami berdua dan yang lainnya menggunakan penerang atau tidak. Yang pasti jalan yang kami tapaki gelap gulita. Di posko pertama, saya dan Istiqomah diminta untuk menulis surat wasiat. Waktu itu saya menulis, kalau saya meninggal saya mohon kepada Allah agar kelak saya meninggal dalam keadaan khusnul khotimah (akhir yang baik). Saya juga bermohon kepada Allah agar saya termasuk kedalam golongan hambaNya yang mati di jalan Allah. Mati sebagai hamba syuhada… Saya berharap bisa masuk syurga bersama dengan orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya. Saya juga meminta ma’af kepada keluarga saya, kepada bunda, ayah, dan orang-orang yang pernah berinteraksi dengan saya. Kalau-kalau saya ada salah. Seperti itulah kira-kira surat wasiat saya waktu itu. Diperjalanan teman saya Istiqomah sudah mulai menangis. Menangis karena Allah. Saya masih ingat apa yang diucapkannya, namun hanya sedikit. Ia meminta agar Allah memasukkannya ke dalam syurga dan orang-orang yang ia cinta dan juga mencintainya karena Allah. Istiqomah juga menyuruh saya untuk terus beristighfar sepanjang perjalanan. Dalam hati saya, Subhanallah…betapa sholehahnya anak ini. Ia, saya lebih tua beberapa tahun darinya, umurnya sama dengan adik saya. Jadi saya merasa dia seperti adik saya sendiri. Jujur saja antara mengantuk dan takut gelap. Entah kenapa kalau gelap, nafas saya mulai tersesak. Padahal kalau menurut ahli kesehatan, tidur dalam keadaan gelap dapat menghindari diri kita, terutama untuk akhwat yang belum menikah dari kanker payudara. Namun, saya berusaha menenangkan diri dengan banyak-banyak berdzikir. Ketika hampir sampai ke posko berikutnya, saya mendengar ketukan palu. Dalam hati saya, “kenapa ada suara ketukan di tengah malam-malam ini. Namun karena dari tadi hati saya diisi dengan dzikir, ketakutan saya pun mulai sirna. Di sini saya dan Istiqomah dihampiri kedua orang panitia. Mereka menutup ke dua mata kami dengan sehelai kain berwarna gelap. Sekarang saya benar tidak melihat apa-apa lagi. Hanya gelap. Saya dituntun seorang panitia menuju ke suatu tempat. Saya sudah tidak merasakan lagi hadirnya Istiqomah di samping saya. Kami terpisah. Saya dituntun masuk kedalam sebuah lubang dan dibaringkan ke dalam nya… dalam posisi mau di kubur. Namun tidak semuanya…Wajah saya masih dibiarkan tidak ikut terkubur. Kudengar suara ketukan palu… Lalu terdengar suara panitia. Suara yang tidak asing lagi. Ya suara teman sekost saya. Ka Inge, Mahasiswi FKIP UNTAN jurusan Biologi. Rasa takut tadi hilang ketika mendengar suaranya. Ka Inge menangisi kepergian saya… Namun di sini saya jadi anaknya… Dia menangis dan meminta ampunan dari Allah kepada saya. Atas kesalahan-kesalahan di masa hidup saya di alam dunia. Saya tersentuh… Ka Inge dan teman-temannya. Saya serasa sudah meninggal benaran. Di satu sisi Saya ingin menangis, di satu sisi Saya takut kalau-kalau ada cacing ada ular… Namun ini pasir.. Selesai, saya dibimbing untuk keluar dari posko ini. Ternyata ini yang namanya fase alam kubur. Selanjutnya saya dibimbing keluar dan tidak jauh dari tempat itu, penutup mata saya pun dibukakan. Saya sebenarnya ingin melihat Ka Inge, namun tempatnya ternyata agak menanjak ke atas dan gelap. Di sini dengan teman baru, namanya Syahira. Kakak panitia menyuruh kami ke posko berikutnya. “Di mana kak?” Kata saya, Jalan saja terus, nanti ketemu. Berdua saya dan teman baru saya saling berpegang tangan melewati kegelapan malam, dan saya melihat ikhwan-ikhwan yang tergeletak di tanah. Saya pun merasa keheranan. Apa fungsi mereka? Sepertinya ada suara nafas yang sedang tertidur. Ah mungkin saja mereka tertidur. Ada sebuah pohon besar. Saya tambah merapat ke teman baru saya. Ternyata di pohon ini ada seorang ikhwan, inilah posko fase di mana malaikat menanyakan kita. Siapa Tuhan Saya?, siapa Nabi Saya?, Siapa Saudara Saya? Hingga pertanyaan Di mana kiblat saya?, pertanyaan terakhir inilah yang dijawab Syahira Mekkah. Kemudian saya menjawab Ka’bah, namun sebenarnya dari tadi yang menjawab adalah teman saya. Sebenarnya saya masih takut. Namun kami berdua disuruh Istighfaar. Dan di suruh menuju fase berikutnya. Di sini udara segar karena menuju tepi pantai. Rupanya Istighfar adalah kata kunci. Panitia menanyakan, “tadi diposko sebelumnya kalian disuruh mengucapkan apa?”, kami berdua menjawab, “Istighfar”. Lalu seorang panitia yang agak galak membawa kami dan menyuruh kami menutup mata. Saya sekali lagi takut gelap. Panitia itu sepertinya kesal melihatku yang takut-takut disuruh melangkah ke depan dengan mata tertutup. Dia sedikit memarahiku dan berkata “takut benar, nggak diapa-apakan koq.” Dengan nada yang tidak ramah. Saya merasakan hangat, namun Saya tidak dapat melihat. “Seperti inilah gambaran neraka katanya”… Jujur Saya tidak menangis, tapi kesal sekali karena diperlakukan kasar. Mungkin karena ini Neraka. Saat itu dalam hati Saya menyalahkan Syahira. Kenapa tadi menjawab kiblat itu mekkah. Rasanya saat itu kalau bukan satu-satunya dari kampus DATACOM mungkin saya udah menjambak jilbab panitia akhwat yang tidak saya kenal itu. Namun hati kecil saya membisikkan, ini hanya permainan… saya harus sabar. Sabar… Setelah mengitari api yang pada saat itu saya sudah berfikir yang macam-macam, apakah saya akan didorong dari api. Jujur saja saat itu saya jadi stress, saya marah, dan saya malu. Bercampur rasa. Namun akhirnya suasana tidak menyenangkan itu berlalu. Kami menuju alam Syurga. Sesuai dengan namanya, kakak-kakak panitia yang dibagian tersebut menyejukkan hati, memberikan tausiyyah yang menyejukkan hati, dan meminta menutupkan mata, ketika aku menutup mata … saya mencium wewangian yang lembut… “dan demikianlah gambaran syurga”… Kata kakak yang ramah lagi bertutur lembut itu menutup tausiyahnya. Di sini saya melampiaskan air mata yang tadi ditahan-tahan karena gengsi. Memang hanya pada orang yang bersikap hangat, lembut, dan ramah, juga bisa membuat saya merasa nyaman, saya bisa membuka diri. Karena jujur saja, saya ini termasuk ke dalam golongan anak mama. Setelah dari itu saya dan teman saya berwudhu untuk sholat subuh berjama’ah. Sambil menunggu teman-teman lain yang masih di permainan simulasi alam kubur. Saya sempat marah dengan Syahira, “Syahira sich… jawabnya Mekkah”. Namun dalam hati, saya merasa bersalah telah memarahi Syahira. Namun karena gengsi… sudah terlanjur marah-marah. Masih kesal karena tadinya masuk neraka. Bayangin SMA nya ikutan ROHIS, panitia inti ketika acara pesantren kilat puteri di SMA. Namun aku berusaha menasehati diri… Ada hikmahnya. Toh kalau dipaparkan lebih lanjut siapa-siapa yang berhak mendapat tiket syurga. Malahan seorang pelacur bisa masuk syurga hanya gara-gara memberi makan seekor kucing. Namun tetap kita mesti istiqomah dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Kita pun duduk dihamparan sajadah di atas pasir … Owh indahnya… Sudah ada beberapa ikhwan di shaf terdepan. Saya menangis merindukan bunda, saya tidak ada ijin kepada bunda untuk mengikuti madrasah alam. Bunda tidak tahu itu. Beberapa saat terdengar suara teriakan mahasiswi PGSD namanya Maharani yang di sapa Mahar dari posko. Entah kenapa.. Ternyata ia kaget ketika di posko di mana malaikat memberikan pertanyaan. Kaget tiba-tiba ada yang bicara di pohon. He..he..he..he.. Adzan shubuh pun berkumandang dengan syahdu. Ba’da shubuh, kita Riyadhoh (olah raga). Terbagi menjadi dua kelompok. Ikhwan dan akhwat. Saya dan para akhwat menyisi ke pantai. Di pimpin oleh satu orang akhwat. Kita pemanasan, namun sebelumnya akhwat itu memberikan kami sugesti… “bayangkan kalian sekarang sudah mandi”. Terasa segar alami ditambah sinar mentari pagi dan angin lembut di pantai Kura-Kura. Setelah itu kita bermain game, mulai dari game ta’aruf (perkenalan), hingga game perang-perangan air. Air dimasukkan ke dalam plastik putih dan barangsiapa yang terkena lemparannya, maka ia mati. Diakhir permainan kita diminta mengambil hikmah dan ternyata permainan peperangan antar muhajirin melawan kaum anshor tersebut sebenarnya tidak boleh, solusinya adalah berdamai. Karena ke duanya adalah bersaudara. Pada saat itu ada beberapa akhwat yang tertidur dalam posisi duduk dan langsung ditegur. Kalau saya malah asyik main-main pasir, hingga ditegur teman yang duduk di samping saya karena hampir mengena matanya. Jadinya mulai dari barisan saya dan kelompok saya hampir saja tidak fokus kepada pengisi acara pagi itu. Agenda lainnya yaitu diskusi perkelompok. Pokoknya seruuu!! Nggak rugi saya ikut waktu itu. Malamya ada pentas seni di tepi pantai. Dari yang kelompok ikhwan ada yang bernasyid, ada yang bermain drama, malahan panitia ihkwan dan akhwatnya memperkenalkan diri dan menyayikan yel-yelnya yang lucu habis. Pada saat tubuh saya sempat menggigil kedinginan. Saya sudah bergetar hebat, syukurlah panitia bagian konsumsi telah membuatkan saya dan teman-teman air jahe yang menghangatkan badan. Oiya, makanannya enaklah untuk ukuran mahasiswa yang sedang melaksanakan acara di luar seperti ini. Keesokan paginya banyak sekali kakak-kakak senior yang datang dari Pontianak. Mereka menyusul menggunakan motor. Seruuu… Setelah sarapan, kita akan hiking ke Tanjung Gundul. Yang lokasinya sekitar pantai kura-kura juga. Jadi enggak perlulah pakai bis. Inilah pendakian pertama saya. Saya dan ikhwah fillah memakan waktu 2 jam. Waktu naiknya terasa benar capeknya. Kebetulan saat itu saya masih aktif di klub taekwondo. Jadi lumayan masih bisa mengatur nafas. Saya dan teman-teman satu kelompok bergantian membawakan tas ransel yang isinya air mineral. Kalau saja waktu itu barang bawaan kita enggak ditumpuk jadi satu. Akan tetapi di pisah-pisah, pasti tidak seberat itu jadinya. Namun saya yang merasa saat itu masih kuat bersedia membawakan tas yang beratnya mungkin lebih dari 2 kg. Rasa capek, rasa jenuh dalam mendaki ke puncak tidak terasa, karena dipandu oleh bang Hadidi dari FKIP UNTAN jurusan Koperasi. Beliau ini dari Kabupaten Kapuas Hulu, satu daerah sama saya. Saya merasa bangga karena punya teman satu daerah seperti bang Hadidi. Beliau memberikan kami semangat, menyanyi nasyid, kami disuruh mengucapkan tasbih pa bila melihat keindahan alam. Memang dari atas sana kita bisa melihat pantai kura-kura yang indah… beserta birunya laut yang berkilau oleh pancaran sinar matahari. Udara segar juga didapat dari pepohonan hijau di atas bukit sepanjang perjalanan. Kami juga disuruh mengucapkan takbir…!!! Sampai di tujuan kita disuruh duduk berdua-duan. Akhwat sama akhwat, ikhwan sama ikhwan.  Di sini kita disuruh untuk saling mengenal teman di samping kita. Pasangan saya dari PGSD namanya Nabilah, orangnya cantik dan hitam manis. Setelah disuruh tukar kado yang artinya untuk mempererat tali ukhuwah, kita disuruh curhat sama teman kita kalau ada masalah. Nabilah curhat sama saya sampai menangis-nangis, namun saya tetap tenang dan berusaha untuk menguasai diri. Saya berusaha memberikan pencerahan di hatinya, dan motivasi-motivasi, serta mengingatkan ia bahwa Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang. Allah tak pernah menyia-nyiakan hambaNYA. Terus, dan terus saya memberikan motivasi dan nasehat semampu saya. Namun saya juga berusaha semampu saya untuk menjadi pendengar yang baik. Padahal waktu itu saya juga sedang ada masalah dengan nilai-nilai kuliah saya dan masalah keuangan. Karena saya enggak mau repot-repot masak, saya selalu membeli dan akhirnya kiriman selalu masih saja dirasa kurang. Saya juga tinggal dilingkungan perkotaan, pekerja. Jadi harga makanan pun bukan untuk ukuran mahasiswa. Namun saya malas sekali masak waktu itu. Mana lagi saya suka sekali membeli buku-buku karena rasa penasaran saya akan Islam. Ampuni saya bunda, ampuni saya ayah. Astaghfirullahal adziim. Yaa namun itu hanyalah masa lalu… Sekarang ini saya adalah Azka yang baru. Yang setiap harinya bekerja untuk mendapatkan keridho’an Allah. Setelah selasai sesi curhatnya, dilanjutkan Tausiyah oleh ketua acara.Tausiyahnya berisi…” Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat [1234] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (Q.S. Al-Ahzab:72). Beliau memberikan dengan penuh semangat dan sangat menyentuh hati. Beliau juga mengingatkan jangan sombong. Saya melihat kesekitar kita kakak-kakak panitia menangis, ada yang seperti terkaget… mungkin sadar diri. Ada yang menangis kuat sekali suaranya. Saya sendiri.. merasa sejuk sekali mendengar tausiyahnya. Ini kali pertama saya melihat ada ikhwan yang nangisnya keras. Selesai bertafakur… yang diawali dengan pembacaan tilawah, kita pun turun ke bawah. Pada saat turun saya merasa agak kesulitan, namun teman-teman terus menyemangati. Jalannya licin dan saya hampir saja terpeleset ke jurang. Kemudian saya diingatkan kembali untuk berhati-hati. Dan Alhamdulillah akhirnya kami pun sampai dengan selamat di daratan. Dan lagi panitia bagian konsumsi menyediakan kami minuman dingin dan makanan. Acara ditutup dengan upacara penutupan. Seperti halnya pertama kali datang. Dibuka dengan upacara pembukaan. Oiya, pada saat pembukaan ada laporan beberapa jumlah peserta dari setiap kampus. Ketika diketahui ada satu orang dari DATACOM ketua panitia spontan memberikan komando teman-teman untuk bertakbir. Pada acara penutupan, para panitia sekaligus anggota LDK Tarbiyah memperkenalkan diri. Semuanya keren-keren karena yang ikhwannya bertakbir diikuti teman-teman. Terlihat jiwa kepemimpinan dan kedewasaan mereka. Juga yang akhwat, dengan percaya diri dan tetap santun memperkenalkan dirinya. Saya suka sekali ketika ketua seksi bagian konsumsi memperkenalkan diri, serta mempromosikan untuk tahun depan siapa yang mau jadi seksi konsumsi silahkan mendaftar. Tidak ada beban dan sembari tersenyum manis. Semoga apa yang saya ceritakan ini bermanfaat dan setidaknya memperkenalkan, memberikan informasi walaupun sedikit, ke dunia luar bagaimana kegiatan Lembaga Dakwah Kampus ini. Sungguh tidak ada sedikitpun yang namanya pelatihan-pelatiha teroris. Beginilah saya apa adanya. Jangan ada dusta diantara kita. Bila langkah membekas lara, kata merangkai dusta, tingkah menorah luka… mohon dihapus dari kalbu.

Gambar: Google



                                                    Wassalam,





 Nurhijria azka maharani, A.Md   
  

Unknown

No comments:

Instagram