Tari 17 Agustus '45

Ketika aku duduk dibangku kelas I SMP aku punya teman akrab, Fitri lia adinda dan Lety Natulastifa... Lia kalo di rumah dipanggil uni lia, amaknya orang Padang. Sedang aku dan nety murni orang ulu. Mereka berdua satu sekolahan ketida duduk di bangku dasar, sedangkan aku dari SD lain. Oiya waktu itu sekolah kita akan menampilkan pagelaran seni tari (tari melayu kreasi) pas 17 Agustus 1945 di Halaman kantor Bupati Putussibau. Di mana seluruh instansi pemerintah, sekolah-sekolah yang ada di Putussibau mengikuti upacara bendera. Waktu itu bagi siapa saja yang mau ikut menari sila kan mendaftar ke guru tari. Ada juga yang dipilih. 
doc:gambar.mitrasites.com
Awalnya aku gak ikut, kupikir enakan di dalam kelas dari pada latihan jam sekolah mana panas-panas lagi... di halaman sekolah dan pesertanya memang disuruh banyak.
Namun akhirnya aku ikut juga karena dibujuk teman-temanku, Lia dan Lety. Akhirnya kami latihan berbulan-bulan dan pada jam istirahat kakak-kakak kelas pada lihat-lihat kami. Aku inget waktu itu kak Diya dan teman-temannya gemes melihat aku yang cantik and manis ini, imut-imut tapi gak kayak marmut. "Lucu yaa.." Kata mereka, ya jelas aku jadi malu... emangnya aku nih boneka dilihatin mulu' sana gih mending dari pada ganggu konsentrasi aku lebih baik jajan kek, main sendiri kek, atau ke perpustakaan... Atau bersih-bersih musholla tuch... (dalam hati saja...).. Tapi aku hanya senyum malu-malu cat dilihat gituuuu...
Semuanya cewek dan yang paling unggul dalam menari adalah Ratna Yanti (adeknya kak Hai yang dulu ikut kegiatan PKPRMII di mempawah, waktu itu aku kelas II MA), wajar dia anak sanggar tari sedangkan lainnya ada juga yang handal, namun yang paling lincah dia, aku sih cuma penari amatiran. Sedangkan yang lainnya rata-rata. Mungkin aku gimana gituuu... Karena bukan akunya yang mau, tapi diajak teman akrabku. Sering dalam latihan aku dan teman-temanku bertabrakan, bersenggolan, dan aku mungkin salah-salah dalam menari (namun tetap ingin sebagus mungkin)... namun keep happy dan kompak karena mungkin waktu itu masih anak-anak... Seruuu... Meskipun kakiku sempat kena siban (kayu halus) karena kami kan gak pake alas kaki latihannya... pun tampilnya.... Lia dan Lety lah yang membantu aku mengeluarkan siban. "sakit...sakit..." kata aku saat mereka berusaha mengeluarkan siban.
Akhirnya waktu yang dinantikan tiba... baju dari Ibu, sedang dandanan dan kain songket masing-masing. Bundaku yang orang melayu jelas ada menyimpan kain songket... Sedangkan dandanan karena amak nya Lia yang seorang teacher pandai mendandani, maka aku, Lia, dan Neti... didandani beliau... kami berangkat sama-sama dari rumahnya Lia yang gak jauh dari sekolah, berjalan kaki. Mereka berdua memuji wajahku... "cantik oi Ria...". "Sama lah", kataku seneng.
Kami tiba disekolah... dan sebelum berangkat ke kantor BUPATI aku, dan penari lainnya yang mungkin ratusan... berdo'a di lapangan SMP I. Kami pun menari dengan penuh keceriaan... Lupa juga sih kapan... seingat aku waktu UB belum dimulai... Bayangkan senangnya kami menjadi pengisi acara hiburan pada saat UB 17'agustus di halaman kantor bupati.... dan setelah menari kami dikumpulkan lagi untuk dievaluasi hasil tari tadi... Karena kesepakatan siapa saja yang salah dalam menari pas tampil, kudu dihukum lari keliling lapangan... "Enggak ada" kata kami  agak deg-degan mungkin diantara kami... termasuk aku ada yang salah-salah dikit... Ibu pun tersenyum dan membagikan kami permen. "Jangan bohong yaa, Ibu tahu gimana nada suara sedang bohong." Kami berusaha meyakinkan Ibu kalo kami gak ada yang salah... Setelah itu kita pun pulang ke rumah masing-masing dengan mengucapkan syukur... Kepada Allah swt. dan rasa terima kasih kepada para pahlawan... 

Unknown

No comments:

Instagram