Serial Kenanganku Bersama Murabbi: Pesan Murabbi

Kenanganku Bersama Murabbi


Aku mulai ikut liqo’ ketika duduk di bangku kelas I Madrasah Aliyah Negeri di Putussibau. Ketika itu aku dan sahabat sekelasku Mimi membaca pengumuman di mading sekolah, ROHIS bukan hanya belajar ilmu agamanya saja, tapi juga ada keterampilan dan kesenian. Keseniannya berupa nasyid. Kebetulan aku dan Mimi senang bernasyid. Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti pengajian. Kami berdua segera menemui Kak Rita dan Kak Ina kakak kelas kami. Mereka adalah anak-anak ROHIS. Penampilan mereka bersahaja, Jilbabnya yang panjang disertai akhlak yang baik menambah kewibawaan sebagai senior kami yang bersahabat. Sebenarnya sih Kak Ina udah dari awal masuk Aliyah mengajakku untuk join. Cuma pada awalnya aku menolak karena aku pikir di kelas saja sudah penuh pelajaran agamanya. Mulai dari fiqih, sejarah kebudayaan Islam, Aqidah akhlak, Alqur’an hadits, Bahasa Arab, dll. Dan jua aku telah bergabung dengan OSIS langsung mendapat jabatan pula, sebagai seksi pendidikan. Aku sendiri selama menjabat sebagai seksi pendidikan merasa kurang dalam memberikan kontribusi di sekolah. Kelak pada saat kelas III aku termotivasi untuk menghidupkan kegiatan dakwah di sekolahku.
Murabbi Pertamaku

            “Perkenalkan nama saya Nuhijria Maharani, lahir tanggal 5 September 1986 di Putussibau, Hobi saya membaca, menulis, dan nasyid.” Dengan suara yang pelan aku memperkenalkan diri di hadapan murabbiku dan juga teman-teman mentoringku yang terdiri dari kakak kelas yang sudah lebih dulu ikut mentoring dan juga anak-anak baru yang berasal dari  kelas I. Murabbiku bernama Endang Purna yang kata beliau Endang artinya enak dipandang dan Purna artinya Bungsu. Mbak Endang berasal dari Jawa Tengah, kalau dia bicara aku hampir-hampir menitikkan air mataku, karena suaranya meneduhkan sekali. Aku merasa cocok dengan murabbi ini karena karakterku yang kurang sabaran. Seperti api bertemu air. Beliau PNS di kantor pajak, dan suaminya Mas Mujahidin juga seorang murabbi yang diterima oleh warga Putussibau. Beliau PNS di KPPN Putussibau, tempat aku bekerja sekarang. Sekarang Mbak Endang dan keluarga sudah pindah ke Jawa. Sudah punya anak, terakhir yang aku ketahui anaknya sudah 2 orang, puteri semua.
            Menuntut ilmu Agama wajib hukumnya untuk umat muslim. Teman-temanku yang Insya Allah sholehah semua mereka adalah, Kak Rita (sekarang Ummunya Umam), Kak Ina (sekarang juga sudah menikah dengan ikhwan satu kampus, dan sekarang menetap di Pontianak), Teteh Raden Siti Umamah (sekarang sudah menikah dan punya dua orang putera). Kelas satunya, aku, Mimi (dari Boyan tanjung sudah menikah), dan ll… aku lupa… selama 3 tahun aku aktif di ROHIS, OSIS dan Muhadaroh, melanglang buana ke Mempawah, ke Ponpes Al Jihad Kecamatan Tepuai Kabupaten Kapuas Hulu. Bersama kak Endang yang mewarnai dan mengisi masa-masa remaja kami. Akhirnya kami tersadar bahwa meraih cita-cita bersama ALLAH…
            “Berbakti kepada orang tua akan berbuah syurga, Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada keduanya, bahkan pernyataan ini langsung terkandung dalam Al-qur’an. Janganlah kamu berkata ah,… syurga itu terletak di telapak kaki ibu.. Ridho kedua orang tua adalah Ridho ALLAH. Turutilah perintah ke dua orang tuamu kecuali jika menyuruhmu menyekutukan ALLAH.” Kata-kata Mbak Endang terus terngiang-ngiang di telingaku dan merasuk ke sukmaku, kami mentoring hari ahad siang, Bapak dengan setia mengantar jemput aku ke mentoring, selalu on time.
            Hingga tidak terasa sudah kelas III, giliran aku yang menjadi kakak senior di Madrasah Aliyah Negeri. Aku tetap eksis di OSIS dan ROHIS. Aku merasa banyak sekali manfaat mengikuti ROHIS. Yang pasti sholat 5 waktu tidak pernah tinggal. Di tahun-tahun terakhir di sekolahku, aku membuat kegiatan pesantren kilat dibantu rekan-rekan kelas III a maupun III b. kami kompak. Dan tidak pernah kulupakan kerja keras teman-teman panitia, serta professional mereka dalam menunaikan tugas mereka. Heny yang sanggup tidak tidur semalaman patut diacungin jempol, ia bertugas sebagai seksi keamanan. Ema dan Dewi yang menghidangkan makanan lezat untuk sahur dan berbuka. Nina juga, teman-teman lainnya. Nina yang setia menemani aku yang ketika itu mulai menurun kondisi fisik dan ruhani. “kak Nur bangun, ibu nyuruh kakak ikut muhasabah malam ini”, sebenarnnya aku capek sekali karena pas hari H aku mesti ngetik surat undangan untuk pembicara serta mengantar undangan. Biasanya aku gak dibangunin. Belum lagi peserta ada yang susah diatur, namun inilah tantangan, dengan sekuat hati aku dan Nina berjalan menuju musholla. Mana harus menyemangati panitia yang mulai kendur. Dan kalau ada yang salah sedikit dalam kegiatan tersebut aku lagi yang kena, mau gak mau aku mesti ngumpulin teman-teman lagi untuk evaluasi yang kadang adu pendapat. Kalau saja mereka tidak bermental baja, mungkin kegiatan ini tidak selesai dan mendapat penghargaan dari Kepala sekolah yang awalnya.. tidak setuju adanya ROHIS.. namun beliau akhirnya mengakui keberadaan ROHIS. Bukan aku saja yang lelah begitu juga panitia-panitia lainnya, seluruh tenaga dan fikiran dikerahkan. Semoga ALLAH membuahkan syurga yang kita impikan…
            Akhirnya sebelum aku melanjutkan pendidikanku ke DATACOM aku sempat pamit sebentar ke murabbi, dengan catatan jangan menikah dulu, kasihan mama. Karena kakakku gak selesai kuliahnya. Aku pegang catatannya…
DATACOM
            Malam kian larut entah gembira entah tidak jam di dinding menunjukkan pukul 00.00 WIB. Aku belum bisa tidur malahan mecahin batu es, habis kepanasan. Sambil menikmati segelas es jeruk dan menonton siaran langsung konser Agnes Monica di televisi swasta. Sebelumnya aku baru di ceramahin Mama sekitar 2 jam sambil mengemas-ngemas barang. Besok adalah hari aku mulai menuju kedewasaan. Belajar hidup sebelum terjun ke kehidupan sebenarnya. Kuliah mulai dari DI hingga DIII jurusan manajemen keuangan dan perbankan di AKUB Pontianak. Menjadi seorang mahasisiwi dan finalnya menjadi sarjana muda. Menjadi seorang kader muslim negarawan… dan kembali ke kampung halaman dengan semangat juara. Kabupaten Kapuas Hulu, yang dikenal dengan makanan khas nya kerupuk basah. Perjalanan ke kota Pontianak sehari semalaman… menggunakan bis ekonomi yang biayanya ratus ribuan. Ada pilihan, Bis ekonomi, Ekslusif biasa, Ekslusif AC, VIP, harga mulai dari Rp140.000,- hingga Rp230.000,-, atau lewat udara biayanya bisa mencapai Rp900.000,-. Sekarang banyak pelajar, mahasiswa, yang memilih berhemat dengan menggunakan motor.
            Kegiatan orientasi peserta didik program DI sekaligus pelepasan pesrta didik DI, di hotel mahkota. Seru. Aku bertemu teman sekampungku yang langsung akrab. Rini yang sekarang bekerja di PEMDA kabupaten Kapuas hulu dan Natalia yang menjadi Ibu rumah tangga dan mu’alaf. Kami bertiga sering ngumpul di kantin, di terowongan kampus, hanya untuk melepas rindu, bahkan curhat-curhatan. Tidak ada rahasia diantara kami bertiga. Bila bertemu saling berpelukan dan memberi semangat. Natalia tinggal tempat tantenya. Rini jua, sedang aku di asrama kampus… yang sesak namun aman… aman sekali. Saking sesaknya kami sholat di atas tempat tidur masing-masing. “agak ndak enak tempat tante, suka marah-marah”, curhat Natalia kepadaku ketika dia berada di kamar asramaku, aku saat itu sedang dalam posisi telungkup mengerjakan soal akuntansiku dari pak Yani. Akhirnya batal mengerjakan tugas diganti mendengarkan curhat salah satu teman dari geng tiga bersaudara. Dan akhirnya aku yang mudah sekali sedih ini sedih, menangis dan memeluk erat sahabatku yang cantik ini. Kami sama-sama anak orang dayak. Tidak ada rasa takut dan khawatir imanku goyah pabila berteman dengannya. Hanya bedanya aku tidak pandai sedikitpun berbahasa dayak. Ketika itu Natalia tidak pernah menyatakan keinginannya menjadi muslim, ia hanya berkata pacarnya muslim dan baik kepadanya. Begitu jua aku dan Rini sudah seperti keluarga. Aku yang ikut merasakan penderitaan sahabatku hanya bisa berkata “ sabar…sabar…”. Ia mengangguk. Suatu kali pernah ia terjatuh di kamar mandi, bibinya tidak mengindahkannya. Pantas sudah beberapa hari Natalia gak kelihatan. Tinggal aku sama Rini. Namun mereka berdua gak satu jurusan sama aku. Aku jurusan komputer akuntansi, mereka berdua sekelas jurusan sekretaris. Namun bila waktu istirahat tiba, sekali-kali aku menghampiri mereka.
            Di kelas aku punya teman akrab yang pintar banget membuat jurnal dan bersuara merdu. Namanya Pupu, sekarang sudah PNS di Sanggau dan dah punya satu orang putera. Selain pupu teman akrabku, sebenarnya kau gak mau dekat-dekat ama dia habis dari awal udah sok kenal sok dekat gitu. Namun Tuty yang gaul ini terus ngejar-ngejar aku agar menjadi bagian temanku. Dan juga teman akrabku Endang non muslim. Dari sanggau jua. Kami berempat jadi ce-es an saking ke mana-mana sering bersama sampai orang-orang memberi julukan kepada kami bertiga unik, antik, aneh, dan ajaib. Dan sayang disayang aku lah wanita malang yang mendapat julukan aneh. Sungguh terlalu. Tuti yang juga pakai jilbab mendapat gelar unik, Pupu ajaib, dan Endang yang satu-satunya gak pakai jilbab mendapatkan julukan resmi dari pemerintahan kampus “antik”. Ha..ha..ha… kami berempat yang sama-sama anak asrama menghabiskan waktu ahad kami di mal matahari. Gramedia. Endang terpaksa ikut ke gramedia, tampak dia gelisah dan gak betah. “Nur nur…” kata Pupu pelan, “lihat tuh Endang dah gelisah, kelihatan gak hobi baca”. “Ia,” kataku tak kalah pelannya. Takut kedengaran Endang. Kami berdua pun cekikikan. Tuty baru saja ditegur petugas Gramedia karena duduk seenaknya, masa duduk di rak buku. Owh tidak bisa.
            Tiada yang abadi di dunia ini, namun cinta sahabat tak akan lekang oleh zaman. Belum selesai satu tahun Pupu akhirnya meninggalkan kami, karena biaya, padahal ia pintar. Namun ketika pulang kampung ia jadi PNS, sebelumnya honor dan sekarang di Sekadau. Tinggal kami bertiga yang sama-sama gak dewasa dan sering berselisih, terutama aku dan Tuty, namun kembali lagi. Sahabat tak terpisahka. Endang dah jarang ikut aku sama Tuty ke luar. Kami berdua Tuty malam-malam makan nasi uduk dan jus buah di rumah makan sebelah kanan kampus. Aku dan Tuty pun dah jarang bersama, karena mesti mengejar jadwal menyusun makalah kelompok. Aku satu kelompok dengan Edi dari kecamatan Tepuai, Kabupaten Kapuas Hulu. Aku melihat kepanikan yang luar biasa dari tuty, malam-malam hujan deras ia dan teman satu kelompoknya yang akhirnya terbawa kepanikan dia berjalan ke rumah Anisa, teman satu kelompoknya nginap untuk menyelesaikan makalah. Terlihat ketergesaan dari mereka. Sedangkan aku sama Edi berjalan begitu lamban. Saking lambannya Edi menyetir kendaraan aku sampai menangis, karena mengingat waktu sudah dekat. Sahabtku Edi berkaca mata, tinggi, berkulit putih, tampan, dan cerdas serta berwajah baby face ini, pun akhirnya menjadi korban kegelisahanku yang tidak tenang dengan makalah yang belum-belum jadi. Namun akhirnya makalah kami sampai ke meja Instruktur dan lulus uji dengan nilai memuaskan. A. Alhamdulillah. “Setelah kesulitan ada kemudahan”…kataku. Namun aku sebenarnya masih marah sama Edi. Karena kami diolok-olok kelompok lain yang lama sekali gak kelar makalahnya. Anak-anak cowok itu berkata “masa’ belum selesai-selesai?”.. 
Daurah Marhalah
            Ketika kesulitan datang… setelah kesulitan ada kemudahan… selama ini aku tidak pernah mengenal yang namanya putus asa dan patah semangat. Aku selalu berfikir bagai mana caranya… aku selalu menghibur diri dengan kata-kata yang memotivasiku.. ketika aku pernah berhasil bangkit saat-saat sulit menghimpit kehidupan kami sekeluarga… saat itu jua kutemukan cahaya… dan seolah-olah ada bisikan bahwa aku bisa melewati ini semua.. bahwa ini hanyalah ujian dari Allah… mendung ini kan berganti.
            Sebelum masuk asrama aku sempat tinggal di rumah kontrakan kakakku yang ketika itu masih di Pontianak bersama suaminya. Aku agak-agak stress melihat kondisi rumah ini. Kecil, lembab, aku jadi merasa gak betah tinggal di sini. Akhirnnya aku mulai lemah semangat. Pernah suatu hari kakakku ngomel-ngomel sama aku, gara-gara aku nggak merapikan barangku. Enggak betah mendengarkannya lalu aku pergi begitu saja. Tujuanku ke kostan teman Aliyah dulu. Tidak sengaja aku bertemu kak Diya teman SMA kakak dan juga anak ROHIS SMANSA. Akhirnya aku sering main-main ke kostan yang letaknya di Sungai Raya. Ketika aku memilih untuk tinggal di asrama aku sempat jarang berkomunikasi dengan kakakku. Kecuali kalau ada masalah di asrama. Kakakku kemudian pulang ke Putussibau karena suami lulus CPNS.
            “Kak Diya… aku enggak mengerti soal English ini”, kataku ke kak Diya. Kak Diya pun membantu aku mengerjakan soal-soal English. “Dek mau enggak kamu ikut KAMMI”, kata kak Diya. “KAMMI? Apa itu KAMMI?” kataku. “KESATUAN AKSI MAHASISWA MUSLIM INDONESIA”, kak Diya menjelaskan. Lalu “besok ada kegiatan Daurah Marhalah (DM), di kampus POLTEKKES 28 OKTOBER, ntar kamu ikut DM dulu jadi kamu tahu apa itu KAMMI. Biasanya anak-anak KAMMI melakukan aksi di jalan.” Aku memang tidak pernah mendengar KAMMI selama di ROHIS Aliyah dulu, aku masih bingung tapi kupikir ikut sajalah. Namun aku pernah membaca cerpen di majalah Annida, bahwa sekelompok mahasiswa berkumpul di sebuah rumah yang dinamai sekretariat dan mereka mempersiapkan perlengkapan-perlengkapan untuk aksi. Mereka berjilbab panjang, yang kemudian mereka itu disebut akhwat dan lelakinya ikhwan. Dan mereka memiliki hijab dalam pergaulan dengan lawan jenis. “Baiklah kak Diya aku ikut, Insya ALLAH”, ternyata untuk ikut kegiatan dakwah aku pikir-pikir dulu. Padahal sahabat Rasulullah “sami’na wa ‘atho`na, … kami dengar dan kami taat.” Sebelum hari H aku di screening oleh kak Diya, kak Diya bertanya makna syahadat, apa alasan aku ikut KAMMI. Jawaban pertama aku gak bisa jawab, karena waktu di ROHIS belum belajar tentang makna syahadat. Kalaupun sudah mungkin aku lupa, lupa nyatat. Begitu jua pertanyaan ke dua.
            Di KAMMI kami akhirnya tahu bahwa tujuan hidup kita hanya untuk beribadah dan yang kita cari adalah ridho Illahi. Akhirnya aku yang sudah mengenal medan di Pontianak memilih untuk berangkat sendiri ke kampus POLTEKKES 28 Oktober Pontianak. Dengan menjinjing satu buah tas pakaian, naik oplet dua kali baru bisa nyampai ke lokasi. Pertama naik oplet gajah mada berwarna biru, kemudian berhenti di depan swalayan Harum. Baru naik oplet siantan, dan diantar sampai ke depan gerbang kampus yang ternyata jarak antar gerbang dan kampus subhanallah… tidak disangka… berkilo-kilo… Innalillah…sebelumnya aku telah menulis surat ijin untuk keluar asrama selama 3 hari 2 malam di POS yang dijaga oleh SATPAM. Aku jua ijin kuliah. Seharusnya waktu itu aku kuliah dulu baru ikut kegiatan, namun aku tidak tahu kalau boleh ijin kegiatan. Ternyata aku yang pertama datang, yang lainnya panitia. Aku bersalaman dengan kakak-kakak panitia, mereka mahasiswa di kampus ini. Berjilbab panjang seragam putih-putih, manis-manis. Kemudian aku melihat ikhwannya baru sibuk mengemas ruangan. Akhirnya aku membantu ikhwan-ikhwan yang jua panitia DM. mengangkat kursi, menyusun aula tempat DM berlangsung.     Setelah berkemas-kemas, panitia akhwat lagi kembali ke kampus. Aku duduk di salah satu kursi yang ada di aula poltekkes tersebut. Datang satu peserta, namanya Nurul dari Universitas Muhammadiyyah Pontianak. Dan kami langsung akrab.jilbabnya juga panjang. Waktu itu jilbab aku masih gaul, maklum lingkungan jua. Jilbabku dililit-lilit seperti mau mencekik leher. Namun membuat aku modis dan trendy. Gaya muda. “tadi aku di depan gerbang jalan sendirian berpas-pasan dengan Ikhwan” katanya. “Malu”. Syukurlah ada akhwat lewat pakai motor sendiri, akhirnya aku gak jadi barengan sama Ikhwan”. Aku juga berbagi cerita, aku bilang “kalau aku naik oplet dari jalan penjara sampai ke sini, trus pas datang hanya ada panitia dan aku bantu-bantu mereka menyiapkan ruangan.”  
            Peserta terdiri dari mahasiswa-mahasiwa muslim yang ada di Pontianak. STKIP mengeluarkan mahasiwa yang paling banyak, aku dapat info bahwa anak KAMMI nya ketua BEM. Akhwat. Namanya kak Asma, orangnya ceria dan ramah. UMP yang kukenal hanya Nurul. Ada ukhti Susi dari ABA, dia juga sama seperti aku jilbabnya masih gaul waktu itu. Mungkin aku setuju kegiatan yang paling seru adalah Training Manajemen Aksi (TMA). Panitia berperan menjadi keamanan pemerintah, sebagian ada yang menjadi wartawan, aku dan peserta lainnya di bagi dua ada yang jadi musuh dan ada yang jadi peserta aksi. Aku berhadapan dengan ukhti Susi. Kami di suruh memasang eksyen wajah bertemu dengan musuh. Kami disuruh benar-benar menghayati peran kami. Hingga akhirnya semua peserta akhwat dan ikhwan masing-masing membuat barisan dan saling berpegangan. Panitia berusaha untuk menculik peserta aksi dengan menarik-narik kami, ketika itu aku di belakang kak Nisaa dari kampus Poltekkes samping RSUD. Sungai raya. Pakaian kak Nisaa sampai robek karena aku tidak sengaja menarik rompi bajunnya. Katanya sih pada saat aksi ada sekelompok provokator yang berusaha membuat kerusuhan dan memfitnah mahasiswa yang sedang aksi. Makanya TMA ini dalam berbagai bentuk di sampaikan kepada mahasiswa. Ada dengan cara games, peserta yang satunya memerintah peseta lainnya untuk mengambil barang yang dikehendakinya dengan cara memainkan mata tanpa boleh bersuara maupun isyarat tangan. Ini pada DM tingkat lanjut. Mungkin semua juga sepakat sama aku kalau kegiatan di DM yang paling serunya adalah makan. Dan yang paling menarik bagiku adalah games-games yang di bawakan kakak-kakak panitia.
            Ketika DM berakhir kak Asma yang mengetahui aku belum ikut liqo’ langsung mencarikan Murabbi untukku. Dia kak Dian. Ketika itu sedang menjadi mahasiswa POLNEP. Namun sayangnya hanya beberapa pekan aku bersama Kak Dian. Karena jadwal liqo’ tidak bisa diubah dan mepet dengan waktu kuliahku.
Murabbi kedua
            Setelah kegiatan DM sukses aku ikuti, aku kembali lagi dengan kegiatan-kegiatan KAMMI, Madrasah KAMMI. Aku, Nurul, ukhti Susi, Kak Nisaa, dan beberapa mahasiswi lainnya. Di selasar masjid Al-azhar Pontianak Selatan. Kak Dian mengajarkan kepada kami bahwa kita tidak boleh pacaran, karena pacaran banyak mudharatnya. Setiap 1 pekan sekali kami diberikan materi-materi yang berkaitan dengan keKAMMIan. Lupa-lupa ingat sih.
            Selain madrasah KAMMI juga ada kajian-kajian, daurah-daurah, sehingga aku menjadi aktivis P7 (Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pas an). Dan Liqo’ menjadi kegiatan yang diprioritaskan sebagian besar jama’ah KAMMI. Aku pun mulai mengikuti Liqo’ perdanaku di POLNEP. Disalah satu kelas yang cukup nyaman dan teduh.
            Seiring dengan berjalannnya waktu aku menjadi senang dengan kak Dian. Pernah suatu malam kami mabit di rumah kak Dian. Aku yang diam terus dari awal, tiba-tiba bernasyid mengikuti suara yang keluar dari kaset. Kakak-kakak pun menggoda aku. Entah kenapa orang-orang suka menggoda aku. Mungkin karena aku kecil, imut, lucu, dan bersuara kartun. Malamnya Tahajjud, “Yang enggak tahajjud tadi malam dhuha 7 kali ya!” tegas kak Asma kepada beberapa akhwat yang tidak bangun untuk tahajud. Ba'da Shubuha ka Asma memberikan taujih yang berjudul dewasa apas sih dewasa menurut Islam yang beliau ambil dari majalah Tarbawi. Di sini dewasa menurut agama ialah orang yang makin dekat dengan ALLAH swt.
            Ujian adalah kasih sayang ALLAH. Kuliah seharian membuat aku capek, aku harus mengejar ketertinggalanku dengan mengikuti jadwal kuliah hingga sore. Waktu itu aku pindah ke rumah nek mami di Nipah Kuning. Di sana aku tinggal dengan beberapa orang sepupuku. Ada bang Puja yang berasal dari Mempawah kuliah di pendidikan DII Penjaskes STKIP-PGRI Pontianak, ada dedek Veri saudaranya puja yang masih duduk dibangku MAN 2 kelas 3 IPS, ada Juli dari Jongkong kelas 3 STM Negeri Pontianak. Setelah menunaikan kewajibanku sebagai mahasiswa dengan hadir tepat waktu dan pulang juga tepat waktu. Aku hendak pulang ke rumah nek mami. Namun musibah tak dapat dielak, oplet berwarna hijau tandanya menuju pasar sudirman menabrak motorku dari belakang. Aku yang saat itu sedang melamun, karena kelelahan tidak dapat menguasai motorku hingga motorku menabrak mobil orang lain. Aku sempat meminta ma’af. Namun ternyata ma’af bapak tersebut tak setulus mema’afkan aku di muka orang ramai. Dia mengejarku dari belakang, dan mengancamku untuk berurusan di kantor polisi. Jelas aku takut, aku berusaha untuk mengajak bapak itu berdamai tapi dia tidak mau. Dia marah karena mobilnya tergores kena rem motorku. “kalau gak mau ke kantor polisi kamu harus ganti rugi”, katanya dengan nada kasar. Aku menuruti saja kemauannya untuk menahan KTP aku agar ia bisa meminta pertanggung jawabanku besok. Karena aku bilang tidak memegang uang sepeserpun.      
                Akhirnya besoknya sesuai janji aku menemui beliau di gang Abadi, tentunya dengan kak Diya, kak Atus dan murabbiku kak Dian. Menurut kak Atus, bapak ini mobilnya illegal. Kami semua menyetujuinya. Sesuai perjanjian aku mengganti kerugian dengan catatan aku hannya bisa mengganti semampunya. Akhirnnya uang Rp100.000 di kantongku berpindah ke tangan bapak itu. Aku sempat berfikir kenapa aku tidak mempraktekkan ilmu taekwondo pada saat itu.
                Bagiku kak Dian adalah kakak yang sangat bertanggung jawab kepada adek-adek binaannya. Namun hanya beberapa pekan saja aku bersamanya, karena kuliahku mepet dengan jadwal liqo’anku. Akhirnya aku dipindahkan ke liqo’annya anak-anak STKIP kak Asma.
Murabbi ketiga
                Aku disambut dengan kehangatan, keramahan dan penuh penerimaan oleh anak-anak STKIP teman liqo’an baruku. Mariana jurusan Matematika adalah sahabatku yang paling aku kenal, dia kalau dah ngomong gak bagi-bagi sama aku. Tapi aku berusaha menyelipkan ideku, ceritaku sama dia. Kadang aku sampai ketawa karena dia gak putus-putusnya bercerita sepanjang jalan. Namun asyik juga berteman sama dia.
                Ka Asma orang yang dewasa, dia mampu menarik perhatian kami adek-adek binaannya ketika ia mengisi ROHIS, serta rela berkorban untuk kami. Pernah suatu malam aku merasa stress dan meng sms kak Asma. Kak Asma dan sahabatnya langsung datang dan mendengarkan keluhan-keluhanku, serta menyemangati aku. Suatu hari aku jenuh sehingga aku enggak pernah liqo’ lagi.
Kembali Liqo’
                Aku mulai merasa tidak nyaman tinggal di rumah nek mami dan akhirnya mmemutuskan pindah ke kostan. 1 tahun Rp500.000,- ketika itu aku sedang berlebaran bersama tema-teman sekelasku. Aku melanjutkan ke jenjang DIII jurusan Manajemen Keuangan dan Perbankan Pontianak. Sebenarnya aku ingin ikut silaturrahmi sampai ke rumah mimi, namun hanya bisa mengikuti sampai ke rumah mbak Ayu. Karena aku baru saja dapat kiriman untuk uang kostanku. Aku khawatir kalau gak cepat-cepat ntar kamarku sudah diambil orang lain. Aku bersalam-salaman dengan semua temanku. Mimi, eda Hilda, tuan rumahnya sahabatku mbak Ayu, Cita, Roni, Memet, Heri, Faizal, Irham, Ian, Fahmi, Yenni, Nana, Tamimul kahfi, Derby, dan Tomi cs. Aku boncengan sama eda Hilda menuju ke rumah Mbak Ayu. Hilda orang batak makanya di depannya ditambah eda. Aku pergi dengan ikhlas.
                Alhamdulillah setelah kamar itu menjadi hak milikku, aku mendapat tetangga baru satu kost. Kamar kami di lantai atas, lantai bawahnya Ibu kostnya yang sangat disiplin. Di samping tangga yang menuju kamar kami ada tiga kamar berderet. Aku yang paling dekat dengan anak tangga yang paling ujung ini, kamarku sangat sederhana, hanya ada kasur lipat, lemari baju yang tingginya tidak kurang dari 100 cm, dan meja kayu lipat.yang penuh dengan buku-buku bacaan. Memiliki satu jendela yang menghadap dinding rumah tetangga kami. Kamar sebelahku yang letaknya pas di tengah antara kamarku dengan kamar ka Atus, adalah kamar ka Inge’. Ka Inge’ mahasiswi FKIP UNTAN jurusan Biologi. Kami berasal dari daerah yang sama dan dia merupakan kakak kelasku ketika di SMP I. Teman sekamarnya, ka Ana dari Yogya. Adek tingkat ka Inge’ FKIP Bahasa Inggris. Dan kamar yang letaknya paling ujung dekat dengan teras rumah kost ka Atus, mahasiswi tingkat akhir FKIP Ekonomi, dan adiknya Hamidiah satu angkatan sama aku mahasiswi FKIP bahasa Inggris. Hanya aku saja yang bukan mahasiswi UNTAN. Ka Atus adalah mahasiswi yang dituakan di kost-kostan kami. Selain itu dia pandai mengayomi. Satu kata yang aku ingat dari ka atus, dia berkata aku memiliki jiwa pemimpin. Kami menghabiskan waktu bersama, terkadang kami buat acara pesta rujak buah-buahan, singkong digoreng, dan terkadang Ka Inge yang mendapat kiriman dari Ibunya kerupuk dan susu, mengajak kami pesta rujak kerupuk dan es susu. Makan besar.
                Ka Inge yang tahu aku berhenti liqo’ mengajak aku kembali ikut liqo’. “nanti ka Inge carikan murabbi buat Ria”, kata ka Inge’. Aku pun mengiyakan. Setelah seminggu ka Inge akhirnya mendapatkan murabbi buatku. Dia ka Endri. Salah satu mahasiswi terbaik di fakultas Kehutanan. Dia adalah wanita yang memiliki kecerdasan tinggi. Dan lulus sebagai Mahasiswi termuda di masanya. Kenanganku bersamanya adalah sebuah oleh-oleh berupa bros. oleh-oleh ini diberikan kepadaku yang tidak bisa ikut teman satu liqo’anku rihlah ke istana kadiriyah di Pontianak.
Murabbi keempat
                Liqo’ perdana dengan murobbi ke empat dikostan salah satu teman liqo’an kami. Siang itu hari ahad, aku menunggu ka endri untuk menjemputku. Aku tak sabaran melihat wajah murabbi baruku ini. Jam 1 siang teng ada sosok tinggi besar dan berjilbab lebar menghampiriku dan mengenalkan dirinya, ka Endri, hitam manis dan selalu tersenyum.
                Kami berdua pun pergi ke tempat liqo’, ka Endri memboncengiku. Lalu kami sampai di sebuah kost. Letaknya tidak jauh dari kost-kostan kakakku ketika dia masih kuliah. Masih satu jalur namun gang nya bersebelahan. Dan tidak jauh juga dari bangunan RUSUNAWA UNTAN. Kami berdua langsung menuju ke kamar temanku. Sebuah kamar yang cukup luas bila ditempati 2 orang. Lantainya keramik, sebuah lemari, meja belajar, dan sebuah ranjang. Kost-kostan ini memiliki dua lantai. Temanku berada di lantai dasar. Tidak ada ruang tamu, namun setiap pintu langsung menuju kamar masing-masing.
                Ternyata teman-teman lainnya sudah berkumpul di sana. Kami pun memulai dengan membaca Bismillahirrahmaanirrahiim, tilawah, dan dibuka oleh mc yang waktu itu bertugas, (oya setiap pekan setiap kelompok dan setiap orang mendapat giliran untuk menjadi petugas, entah itu mc, dlsbg.nya) dan kemudian ta'aruf karena aku anggota baru. Yang kuinget sampai sekarang adalah pesan ka Endri "Learning by doing"... Kesan teman-teman tentang aku adalah pemalu tapi mudah akrab.
             Pada saat liqo' denga ka Endri aku dipindahkan ke kelompok liqo'an mahasiswi-mahasiswi baru yang berkuliah di Fakultas Kehutanan UNTAN di Pontianak. Yaa yang namanya baru lulus SMA sifat dan sikap masih seperti anak-anak SMA... Manja-manja... Masih dalam fase pencarian jati diri. Butuh kesabaran dalam mendampingi mereka... beragam karakter... butuh proses agar saling memahami... Namun mereka adalah kepompong yang siap berubah jadi ulat dan akhirnya menjadi kupu-kupu nan cantik. Atau kita belajar dari gelas-gelas nan cantik yang harus melalui proses pembakaran, penempaan, yang menyakitkan bahkan mengeluarkan air mata, baru ia menjadi gelas yang cantik.
               Pindah kost membuat aku berinisiatif untuk kembali mencari murabbi, dan lagi-lagi ketemu Ka asma, akhirnya di sana aku bertemu dengan Mariana, dll. Aku lebih akrab dengan Mariana. Hingga aku, Mariana, dan satu teman kami lagi jua anak STKIP (sekampus dengan Mariana, Mariana jurusan MATEMATIKA) dipindahkan dengan murabbi baru. Dia ukhti Heny, sampai aku selesai kuliah di Pontianak. Ada satu pesan dari ukhti Heny yang aku inget ketika aku jatuh... "INSYAALLAH, ria BISA!!!". Syukron ya Ukhti...
                  dan Murabbi terakhirku Ukhti Aci... Suaminya ikhwan namanya Aris. Nah dengan ukhti Aci aku merasakan Liqo' begitu menyenangkan... Mabit menjadi malam yang menyenangkan... bersama sahabat-sahabat baru di dunia Tarbiyah... Mereka adalah Rahma, Muf, Yuli, Tini, Hesty, Rum, Ka Hesty, Mbak Sundari, Ana, Kak Dina, Dina, Nety, Ka Ema, Ka Diya, Dwi', Kak Lita, Bu Sri, Ka Emi, dll. Pesan yang ku ingat darinya adalah "Ana yakin uhti telah berubah, ana gak lihat ukhti yang dulu... tapi sekarang." Apapun kritik secara langsung atau pun tersirat aku terima dengan lapang.





Unknown

No comments:

Instagram